PENYIDIKAN KASUS BENIH LOBSTER DINYATAKAN P-21

img-20161004-wa0004

Proses penyidikan kasus peredaran 3.000 benih lobster oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Perikanan pada Satuan Kerja Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Lombok telah dinyatakan lengkap (P21) oleh Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tanggal 4 Oktober 2016. Demikian diinformasikan oleh Kepala Satuan Kerja PSDKP Lombok, Mubarak kepada Humas PSDKP (4/10). Selanjutnya Mubarak menyampaikan, setelah dinyatakan P-21 oleh pihak Kejaksaan, PPNS Perikanan akan segera melaksankan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap 2) kepada penuntut umum.

Kasus ini bermula adanya penangkapan oleh aparat Kodim Loteng, NTB pada tanggal 06 September 2016 WITA di daerah Kecamatan Pujut Kabupaten Loteng Nusa Tenggara Barat terhadap pelaku yang diduga mengedarkan benih lobster yang diduga akan diselundupkan melalui Pelabuhan Awang, NTB. Dalam penangkapan tersebut, aparat berhasil menangkap 3 orang pelaku yang menggunakan 2 unit kendaraan sebagai alat angkut benih lobster. Sebelumnya pihak Kodim menerima informasi dari masyarakat mengenai informasi adanya kegiatan penangkutan benih lobster yang diduga akan dikirim ke luar negeri melalui Pelabuhan Awang, NTB.

Pada hari yang sama pihak Kodim Loteng menyerahkan kasus tersebut kepada Balai Karantina Ikan dan Pengedalian Mutu Hasil Perikanan (BKIPM) Mataram. Selanjutnya pihak BKIPM Mataram melimpahkan kasus tersebut untuk proses penyidikan kepada PPNS Perikanan Satker PSDKP Lombok pada tanggal 7 September 2016, yang langsung ditingkatkan ke tahap penyidikan oleh PPNS Perikanan. Tidak sampai satu bulan kasus tersebut telah dinyatakan P-21 oleh Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Barat.

Benih lobster merupakan sala satu komoditas perikanan yang mempunyai nilai jual cukup tinggi. Oleh karena itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melalui Peraturan?Menteri Kelautan dan Perikanan Republik IndonesiaNomor 1/PERMEN-KP/2015 menetapkan larangan penangkapan lobster dalam kondisi bertelur, dan hanya boleh ditangkap atau diambil dari alam dengan ukuran panjang karapas lebih dari 8 cm (di atas delapan sentimeter). (djpsdkp)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *